Posts

Tetap

Tidak ada yang benar-benar tinggal tetap. Tidak ada yang benar-benar mampu untuk tetap. Aku memandangi hari. Detiknya, menitnya, hingga pada putaran jamnya, ia masih selalu terlihat sama. Meski sebenarnya tidak. Ada yang berbeda dari setiap rotasinya. Ada yang berubah dari hitungan perputarannya. Ada yang berjalan dan menghadirkan jarak diantaranya. Lalu ada yang memperhatikannya diam-diam. Tidak ada yang benar-benar tinggal tetap. Tidak ada yang benar-benar mampu untuk tetap. Aku menyaksikan bagaimana semuanya telah berubah. Kata orang, everything can change . Iya, mereka benar. Aku ada diantaranya. Ada yang datang, lalu pergi. Ada yang muncul, lalu hilang. Ada yang hingar, lalu diam. Lalu ada yang masih memperhatikannya diam-diam. Ternyata benar.. Semua pasti tidak akan menjadi tetap pada akhirnya.

Turkey, Aku Jatuh Cinta (lagi)

Aku mengagumi sosok ini. Sosok yang dilahirkan ke dunia melalui rahim sempurna seorang ibu paling berbahagia saat itu. 30 September 1976, di sebuah kota besar, Jawa tengah. Sosok ini kian tumbuh dengan karya-karya fantastisnya. Kepiawainnya membingkai kata-kata menjadi begitu indah adalah sihir tersendiri bagi orang-orang sepertiku, juga seperti mereka-mereka yang memiliki kecintaan sama pada dunia fiksi. Tapi tidak, tidak hanya fiksi, aku juga begitu menyukai sebuah cerita tentang traveling. As usual, kalian pasti tahu akan hal ini. Malam ini, tepat pukul 20.07 di hari Selasa, aku menyelesaikan lembar terakhir dari ratusan halaman yang menjadi saksi kisah perjalanan panjang seorang tokoh terkemuka Turkey, Badiuzzaman Said Nursi. Melalui tangan emasnya, rangakain kata yang mewarnai 578 halaman itu terasa seperti hanya beberapa lembar saja. Meski harus aku akui, perlu beberapa malam untuk menghatamkan buku yang hanya kubaca di saat-saat hendak bersiap di tempat ternyaman ruang istira...

Bagaimana Perjalanan Seharusnya

Lupakan sejenak carut marut negara yang katanya bereformasi. Nyatanya, KPK Vs Polri juga tidak bisa dihalangi. Otoritas negara yang katanya RI juga mulai bergidik ngeri. Cela-bela atas nama penguasa pun mengarah ke Jokowi. Mungkin sekarang saatnya pak Beye yang berkata dengan percaya diri, "Piye.. Sek enak jamanku too?" Aku bukan pengamat politik. Paham soal hal yang berkaitan dengan itupun sama sekali tidak. Hanya mengikuti alur saja, toh beritanya sudah terlanjur manganga ke permukaan. Aku bisa apa? Sejurus pertanyaan mulai berkelibat hadir atas nama kebisingan. Negeriku kini ternyata sudah jauh lebih berwarna. Berbagai macam persolaan mulai tidak dikenali lagi, mana yang murni benar, mana yang jelas salah. Sesekali akupun sempat terlibat obrolan atas beberapa kasus yang sama sekali tidak menarik perhatian. Sekenanya, aku menimpali dengan bermalas-malasan. Toh efeknya juga akan sama saja, bukan? Jika ada yang bertanya kemana larinya pemuda Indonesia? Maka jawabannya, k...

23 Bersama Presiden

Hingar bingar suara sirine saling bersahutan. Lalu lintas berjalan tidak seperti biasanya. Di sepanjang rute-rute utama para aparat negara berjaga-jaga. Ada apa ini? Apa yang berbeda dengan siang kali ini? Lihatlah, dengan gagahnya mereka berdiri di bawah terik matahari. Suara peluit serta lambain tangan pemberi aba-aba bergoyang dengan irama. Seperti ada jeda di antara masing-masing sudut agar semua tidak berjalan semakin semrawut. Aku hanya memicingkan mata. Kuperhatikan beberapa wajah yang tidak biasa. Mereka-mereka ini adalah orang yang seharusnya tidak harus berdiri di sepanjang jalan Ahmad Yani kali ini. Lagi-lagi suara sirine itu kembali terdengar. Pada beberapa rute, para pria berseragam itu tadi memberhentikan sebagian pengendara jalan. Tidak memikirkan apakah orang itu tengah terburu-buru, sakit, atau bahkan tertinggal pesawat di Bandara. Yang mereka tau hanyalah menjalankan tugas atasan. Beri jalan seluas-luasnya pada sosok yang akan datang di sini. Sejurus mataku me...

Berai

Haruskah kau kan pergi Bila semua kan sepi Haruskah kau kembali Saat kau baca lirik ini.. Seperti menunggu di sela jam yang berbeda. Menit dan detik kita kembali tak lagi sama. Meski tetes hujan serta jacket tebal menjadi teman. Daun yang jatuh berguguran tidak bisa menghapus ingatan. 6 Jam ku yang dulu. Aku memimpikan kembali saat-saat berada di antaranya. Menghadirkan senyuman dari obrolan singkat yang berkejaran dengan waktu. Apa kabar? Aku menunggu, untuk bisa menyaksikan detik yang kembali sama.

Yang patut dikomentari

Mari sedikit terkejut dengan beberapa berita yang mencuat akhir-akhir ini ! Pak menhub, itu beneran jadinya LCC bakalan di hapus dari peredaran? Nasib para traveler yang notabenenya 'kere' ini nanti gimana? Om mendikbud, apa iya soal UN nantinya akan dibantu oleh bule-bule kece dari LN? apa bule-bule itu 'mengerti' gimana Indonesia sebenarnya? Pakde presiden, gimana ceritanya kasus pengangkatan calon kandidat tunggal Kapolri kok malah jadi tersangka kasus korupsi? emang gak bisa ya menghadirkan kandidat lain yang lebih bersih? Mr.Charlie Hebdo, itu kasus penembakan yang di Paris beneran murni apa rekayasa ya? masih belum ngerti dengan jalan pemikiran sampean dan rekan-rekan media di sana. Tulisan kali ini dibuat dengan sedikit sentuhan yang berbeda. Tulisan yang dibuat oleh orang awam yang juga masih polos dalam hal-lah pemberitaan besar yang kini tengah mencuat di permukaan. Tulisan yang dibuat karena kebingungan dan juga kebisingan akan kasus-kasus ajaib yang t...

BlackBerry Messenger is my problem ;)

Image
"Van, minta pin bb nya dong" "Vania, ntar tukeran pin bb ya.." "Nia, udah download bbm belum?" "Niaaaa.. masih belum download bbm juga? Ayolah download..!!!" Inilah serba-serbi pertanyaan dan pernyataan yang sering aku dapat dari setiap mengenal teman baru atau bahkan berkomunikasi dengan teman lama. Entah harus berapa kali aku menjawab dan menegaskan dengan senyum kecil seadanya. "Maaf ya, aku gak pakai bbm". atau kalau bertemu dengan pertanyaan yang sudah mengarah ke pemaksaan permintaan menggunakan aplikasi blackberry Messenger ini, aku dengan tegas dan bangga bilang "Maaf ya, sampai saat ini belum ada orang yang bisa menggoyahkan prinsip ku untuk menginstal bbm" Telak, jawaban itu sudah cukup membuat mereka yang bertanya dan yang bernada merayu tadi untuk bungkam. Setelahnya, aku akan tersenyum dengan bangganya :) "Aku cuma sering pakai Whatsapp. Kalau mau tukeran Wa aja, gimana?" "Tapi aku jarang ...